Amin Irmawan weblog’s

Mei 24, 2008

Awal kisahku denganmu..

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — AMIN IRMAWAN @ 3:46 am

Mendung, itulah yang selalu menyambut pagiku beberapa hari ini, dengan berat hati dan rasa malas yang selalu menyelimuti pikiranku. Tidur… hal yang sangat aku inginkan.

 

Dengan langkah yang berat aku bergegas menyusuri jalan setapak, berburu dengan mendung yang mulai gelap. Lari…. Hal yang sangat tidak ingin aku lakukan. Tapi ….. terengah-engah, jantung berdegub kencang, darah mengalir ke atas kepala mengakibatkan penglihatanku sedikit terganggu, itulah pilihan yang aku ambil.

 

Idealisme, egoisme, gengsi, sifat yang terpatri dalam jiwa remajaku. Payung adalah hal yang nista, kotor dan haram bagi sifat lelakiku itu. Meskipun hujan badai, … linggis sekalipun, aku tidak akan memanfaatkan benda itu, apalagi jika warnanya pink… oohh… tuhan… kata “TIDAK” sangat wajib kuucapkan untuk yang satu itu.

 

Danau Unhas… “akhirnya tiba juga” pikirku. Rasa malas, suasana dingin yang menusuk tulang-tulang, berdesak-desakan, duduk di kursi kecil dekat pintu pete-pete… tempat yang sangat-sangat aku hindari… “mungkin setelah neraka” candaku. Di kursi kecil itu, selalu membuat jiwa remajaku berpikir bahwa aku sedang diamati, dilihat oleh orang yang duduk di belakang sana, itu sangat mengganggu buatku. “Minggir … pak!!!… “ kalimat yang telah sejam ada di kepalaku dan ingin segera aku teriakkan lalu turun dari mobil yang berwarna biru muda, plat berwarna kuning, dan di kaca depan bertuliskan angka 05 serta kalimat cendrawasih-kampus Unhas dengan warna merah yang sedikit pudar.

 

Menelusuri jalan yang selalu aku lewati tiap pagi membuat hati bosan, “lewat depan rektorat deh….” Pintaku. Suasana hati ku sedikit berubah dengan mengganti jalur yang selalu kulewati selama ini. “Asyik juga yaa…” pikirku dengan melirik ke kanan ke kiri menikmati pemandangan yang baru dan jarang aku melihatnya. Papan pengumuman di depan perpustakaan unhas itu mencuri perhatianku, “menerima warga baru Ramsis unhas RT 2EF……” tampaknya bisa ku coba berhubung aku lagi mencari tempat tinggal di dekat kampus.

 

Dengan langkah yang mantap aku mencoba menuju ke ramsis untuk mengadu nasib menjadi anak asrama itu, aku berusaha menahan rasa takut, cemas, dan bingung yang selalu membuat langkah kakiku berat untuk hal-hal yang baru seperti ini. Lama rasanya menelusuri jalan ke Ramsis Unhas itu, “maju… tidak… daftar tidak….” Kataku dalam setapak demi setapak langkah kakiku. Rasa takut itu tak bisa ku bendung, aku menyerah, nyaliku menciut seketika, “tidak hari ini, besok aku coba lagi tuk mendaftar.

 

Keesokan harinya, kehidupan nyata menjawab semua khayalku tadi malam. Sungguh, khayalku terlampau melangit, terlampau menakutkan, semua yang lalu-lalang dalam jiwa kecemasanku tidak terbukti, semuanya mulus dan lancar. Tanpa kusadari aku telah berada diantara 26 anak rantau yang sedang mengadu nasib untuk mendapatkan 4 x 3,5 meter di bumi tuhan ini untuk hanya sekedar berteduh dari terpaan sinar sang surya dan misteri gelapnya malam.

 

 

Tiba-tiba seorang muda berparas bersih dan berjenggot, dengan suara yang serak menyapa kami ber-26 ini dengan salam. Dia membuatku bingung, …. sangat bingung, beliau dengan cekatan mengunting-gunting kertas dengan tidak beraturan, ada yang besar dan ada yang kecil …. Sekali lagi, … bingung, untuk apa yaa…? Ketusku. Kemudian dengan tegas menyuruh kami semua mengambil masing-masing satu guntingan kertas di meja depan, Maju mi, ambil satu!!!.. satu orang satu na..!!!. Beberapa teman dengan wajah penuh tanya dan raut muka kebingungan berdiri untuk mengambilnya, beberapa yang lain kemudian ngikut dibelakang untuk mengambil juga, dan beberapa yang lain lagi termaksud saya meminta tolong untuk diambilkan.

 

Hasilnya? aku dan tiga orang lainnya tidak dapat guntingan kertas tersebut, enam orang pertama ke depan mendapat guntingan yang besar-besar, yang berjalan santai dan meminta diambilkan harus rela mendapat guntingan yang kecil. Bahaya….!!! Cemasku. Aku mulai memaki, menghardik rasa malas, minder dan malu dalam diriku, akh… toh masih ada 3 orang yang lain!!! Itulah kalimat jimatku agar dapat menenangkan jiwa ketakutanku yang mulai mengamuk.

 

Kemudian beliau mendendangkan suara seraknya lagi, “sudah kami duga, ada yang antusias dan bergerak cepat untuk mengambil bagiannya, ada yang berjalan santai dan ada juga yang meminta bantuan temannya, dua tiga orang bahkan terlihat bermalasan untuk mengambil, kalian pikir semua akan kebagian guntingan kertas itu…!!”

Berkata lagi, “itulah hidup, kalian ambil kesempatan yang tersedia, atau kalian akan kehilangan kesempatan itu, anda tidak melakukannya, akan banyak orang lain yang melakukannya, Kami tidak mau bertetangga dengan orang-orang pemalas, orang yang tidak melakukan apapun, yang menghalangi rezekinya sendiri.”.

 

Hancur hatiku…, nilai kepribadianku untuk yang satu tadi,…jeblok.., tetapi ada sesuatu yang lain, yang beda, ada yang terisi dalam jiwaku, nilai, ada sesuatu nilai yang kupegang dari kejadian tadi.

 

Lalu, aku dihadapkan lagi dengan kebingungan berikutnya…. “Ooohh.. tuhan… apalagi ini..” ketusku. Kami mulai dipilah-pilah per regu yang terdiri dari lima orang. Kemudian kami berlima yang tidak kukenal mulai diarahkan ke suatu kamar di lantai 3, getir-getir ketakutan mulai meraung-raung dalam diri kami.

 

Ada pertanyaan yang membuatku bingung didalam kamar gelap dan pengap itu, bagaimana pendapatmu tentang persaingan?? Pikiran ku mulai berlari, berlari kencang mencari jawaban. Tiba-tiba suara dipojok kamar itu membuat pikiranku berhenti, aku tidak jelas melihat sosok dipojok itu, mataku masih melayang-layang tak menentu arah. Suara itu berkata “Kami tidak mau bertetangga dengan seorang yang suka bersaing”. Kalimat itu membuat pikiranku yang berhenti berlari tadi mulai terpengaruh, sangat terpengaruh, “betul juga…” jawabku dalam hati.

 

Aku mulai menjawab pertanyaan itu, sembarang ku jawab, ngawur…, aku sendiri lupa menjawab apa, tapi intinya aku jawab bahwa aku bukan orang yang suka bersaing. Itulah jawabanku, yang sangat persis dengan keinginan suara yang dipojok kamar gelap dan pengap itu.

 

Munafik…!!! Teriak sosok pria berbadan besar dan gemuk di depanku, aku kaget, sangat sangat kaget…, orang ini munafik… tidak jujur..!!! sambil jari telunjuknya mengarahkan ke muka ku… aku bingung setengah mati…, dia tidak bisa menjadi tetangga ta..!! teriaknya. Bingungku tambah menjadi-jadi, banyak pertanyaan-pertanyaan yang lalu lalang dalam pikiranku, apa yang salah dengan jawabanku.

 

Beberapa saat kemudian, sosok kecil disebelah kiriku mulai menenangkan situasi, pikiranku, penglihatanku mulai tenang meskipun dalam nuansa kebingungan yang sangat, sosok kecil itu dengan sejuk berkata “persaingan harus dilihat secara obyektif sebagai sifat dasar manusia, sejak dari awal kelahiran kita manusia sudah dihadapkan dengan persaingan dan kompetitif yang sangat keras dan ketat. Dalam proses pembuahan, seorang pria dapat menghasilkan ribuan bahkan jutaan sel sperma, tetapi si wanita hanya menghasilkan satu sel telur yang akan diperebutkan oleh berjuta sel sperma tadi, lihatlah betapa ketatnya persaingan yang telah kita hadapi…” sambil menepuk pundakku.

 

“sperma yang kuat, sehat, lincah, cepat yang hanya dapat membuahi sel telur itu, dan lahirlah kita. Itulah persaingan, sifat dasar manusia yang telah dibentuk sejak lahir,…disitulah awal ke-AKU-an kita dibentuk, keegoisan kita, kita merasa mampu dibandingkan berjuta-juta sel sperma yang gagal itu. Seorang manusia, sadar ataupun tidak sadar pasti ingin lebih dari orang lain dari segala hal, baik itu persaingan bisnis, persaingan karir di kantor, persaingan akademik di kampus, itu pasti…”.

 

Hancur lagi hatiku…, , nilai kepribadianku,…jeblok.., tetapi sekali lagi ada sesuatu yang lain, yang beda, ada yang terisi dalam jiwaku, nilai, ada sesuatu nilai lagi yang kupegang dari kejadian tadi.

 

Itulah Ramsisku, dengan nilai-nilai yang tersirat didalamnya, yang tersembunyi oleh temboknya yang usang, rumputnya yang tinggi, kayunya yang lapuk, gentengnya yang bocor, wc nya yang bau, airnya yang tidak ada. Tapi itulah ramsis, yang selalu membuat penghuni didalamnya merindukannya. aku… merindukanmu….

 

Hay… ramsisku, sudah dua tahun aku meninggalkanmu, aku melihatmu sudah semakin bersolek, bergaya, semoga nilai-nilai itu tetap menjulang bagaikan balkonmu, tetap kokoh bagaikan tiangmu, tetap terang bagaikan lampumu dimalam hari.

 

Ramsis Unhas 2E 305

Kamar kecil untuk Orang Besar”

1 Komentar »

  1. wow …..wow….wow

    kisah lama kalau dikenang memang menyedihkan…..
    bro … ini kisah nyata atau fiksi sih

    sungguh mengharukan seperti mengalami sendiri …. he…..he….he..

    Komentar oleh culanode — Januari 14, 2009 @ 1:53 pm | Balas


RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

Blog pada WordPress.com.