“Dia tipe pria yang cuek dan suka tampil seadanya;
karena itulah aku mencintainya”
Jennifer Aniston
“Kamu mau nggak pergi dengannya ke Gramedia kalau dia mengajak?” Mala berusaha menjodohkan aku dengan teman pacarnya. Pasti itulah yang menyebabkan dia membujukku untuk nonton ayat-ayat cinta bersamanya di Studio 21 Mall Panakukkang.
“Dia bukan tipeku,” kataku sambil menatap ke arahnya lagi. Dia memakai kaos konser yang bertuliskan nama sebuah grup yang tak kukenal. Jelas sekali bahwa kaos itu sudah sering dikenakannya karena warnanya yang tampak pudar. Ikat pinggangnya yang terbuat dari kulit imitasi melingkar erat di pinggangnya yang kurus, membuat bagian atas jins kumalnya berkerut. Sepatu kets merek All Star yang dipakainya merupakan satu-satunya beda yang terlihat baru.
Tidak, dia bukan tipe pria yang bisa membuatku tertarik. Aku lebih menyukai pria berotot, tinggi dan atletis. Pria idealku pasti mengenakan celana kain dan baju berkerah. Dan pria yang demikian tidak mungkin memakai pakaian yang pudar dan kusut.
“Kenapa kamu tidak memberitahukan nomor teleponmu kepadanya?” katanya, membuyarkan lamunanku.
Benar juga, pikirku. Kenapa tidak? Aku sebenarnya telah dari jauh-jauh hari berencana untuk melewatkan liburan semesterku bersama Mala di makassar, tapi itu sebelum pacarnya melamarnya. Kini mereka sibuk membuat rencana pernikahan. Karena aku tidak memiliki rencana apa-apa pada liburan ini, kenapa tidak pergi jalan-jalan saja dengan si Heri ini? Toh aku akan mendapat makan malam gratis, atau mungkin menonton film tanpa harus membayar dengan uangku sendiri. Sisi baik dalam diriku merasa ingin membantu meningkatkan kepercayaan diri pria malang ini. Apa salahnya?
“Oke,” kataku. “Aku akan memberitahukan nomor teleponku kalau dia meminta.”
Mala kemudian pergi menemuinya dan memberitahukan semua hal itu kepadanya. Aku merasa seperti kembali ke masa waktu aku masih duduk di kelas 1 SMA, bersama dengan teman baikku bergunjing tentang cowok. “Mely menyukaimu. Kamu suka dia, nggak?” Kini aku merasa seperti seorang pecundang. Kenapa aku harus setuju dengan semua ini? Oya, aku merasa kasihan kepadanya. Kencan kami hanya didasarkan rasa belas kasihan.
Walaupun dia saat itu tertarik kepadaku (setidaknya itu yang kuyakini), namun sepanjang malam itu dia sama sekali tidak berbicara apapun. Mungkin dia benar-benar lelaki pendiam, atau benar-benar pemalu, pikirku saat itu. Setelah untuk kesekian kalinya kupandangi dia, aku tahu bahwa dia tipe lelaki sangat pemalu. Mungkin dia akan merasa terlalu malu untuk menanyakan nomor teleponku, aku berharap.
Ketika kami selesai dan akan pulang, aku bangkit berdiri untuk membayar makananku, dia juga berdiri, dan menghalangiku untuk membayar makanan tersebut. Dengan gaya yang sangat kikuk dia mencoba bertanya kepadaku “Bolehkah kutahu nomor teleponmu?” suaranya bergetar dan kulihat ada setitik keringat di dahinya.
Waduh, sial, kataku dalam hati, padahal hampir saja…. “Tentu,” kata itu keluar begitu saja dari mulutku.
Dia tersenyum lebar waktu aku menyebutkan nomor teleponku. “Aku akan menelponmu. Mungkin kita bisa pergi lagi minggu depan.”
“Ya, mungkin,” kataku, sambil kemudian berjalan menuju pintu keluar.
Dia tidak meneleponku keesokan harinya, dan juga keesokan harinya lagi. Pada mulanya aku merasa lega. Tapi lama-kelamaan aku merasa marah. Setiap hari yang berlalu tanpa dia meneleponku, aku tambah merasa marah. Aku bersedia pergi kencan dengannya hanya agar dia tidak merasa kecewa. Berani benar dia tidak meneleponku setelahnya!
Enam hari kemudian aku mengangkat telepon yang berbunyi dan ternyata dia yang menelepon. “Jadi, maukah kamu bertemu besok dan pergi denganku?” dia bertanya.
“Boleh,” jawabku, dan bahkan aku sendiri terkejut dengan jawabanku tersebut. Rencananya, bukan itu jawaban yang akan kuberikan seandainya dia meneleponku. “Kita mau kemana?”
“Bagaimana kalau kita cari makan dan menonton film? Kujemput jam tujuh?”
“Oke.”
Dia tiba di rumahku pukul tujuh lewat, dan mengetuk pintu. Ayahku yang membukanya dan mengajaknya masuk. Aku merasa lega karena dia tidak memakai baju kumalnya yang bertuliskan nama grup band yang tidak kukenal itu, walaupun mungkin baju itu akan terlihat lebih bagus daripada yang dia pakai malam itu. Selebihnya, bagus juga, celana warna abu-abu dan kaos garis-garis putih. Bukan jenis pakaian yang akan dikenakan pria idamanku pada kencan pertama kami, tapi bolehlah.
Aku masih belum merasa yakin dengan rencana kami, tapi ketika aku naik ke motornya aku memutuskan untuk menjalaninya dan bersenang-senang.
Dan yang membuatku terkejut adalah, aku memang merasa senang. Malah, aku merasa bahwa itu adalah kencan terbaik yang pernah kualami. Setelah pada awalnya sama sama merasa canggung, kami lalu mulai bercakap-cakap dan tidak bisa berhenti. Ternyata dia lucu dan menyenangkan, dan banyak persamaan di antara kami. Ada semacam ikatan di antara kami berdua, dan aku merasa kecewa ketika kencan kami berakhir.
Dia meneleponku keesokan harinya dan berterima kasih atas kencan yang indah malam itu. Dan seperti yang kuharapkan, dia mengajakku lagi…. Dan lagi…. Tanpa kami sadari, tiga tahun telah berlalu. Dia mengajakku untuk melewatkan tiap malam bersama-sama sepanjang hidup kami. Aku pun setuju.
Sebelas tahun yang lalu aku berkencan dengan pria yang bukan tipeku. Delapan tahun yang lalu aku menikah dengan pria yang benar-benar cocok denganku. Terkadang aku masih merasa tidak percaya bahwa keduanya adalah pria yang sama. Dia bukan pria yang sering kuimpikan; tapi dia jauh lebih baik dari apa yang kukhayalkan semasa kecil. Pria impianku mungkin ada di suatu tempat di luar sana, tapi belahan jiwaku ada di sini, di sampingku.
Semoga km bs temukan pria yg km impikan..
Komentar oleh egik — Mei 16, 2008 @ 5:55 am |
salam berpikir merdeka dari bandung
maafkan aku, artikelmu menggungga jiwaku, jangan tanya kenapa
Komentar oleh puang — Mei 20, 2008 @ 10:05 am |
Nice story…
Sederhana namun penuh makna.
Pinter bener nulis sobat ku ini, baru tau.
tapi liat komen yang “1. Semoga km bs temukan pria yg km impikan..egik” Wakakakakakakakakaka….hihihihihihi….huahahhahahahahaha
Komentar oleh Afif — Desember 31, 2008 @ 1:50 am |
seru-haru-romantis-dst=benner2 touching;
keep writing;
Komentar oleh farhan_jie — Januari 13, 2009 @ 9:00 am |