Amin Irmawan weblog’s

April 6, 2008

Apa yang telah kita lakukan?

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — AMIN IRMAWAN @ 12:19 pm

Suatu hari sewaktu kuliah dulu, Aku kehilangan HP dan dompet yang berisi ATM, uang hasil jerih payah menjadi asisten meskipun sedikit tetapi uang cash cess… hee..he… dan kartu yang lainnya. Kemudian dosen pembimbingku berkomentar tentang musibah yang Aku hadapi, Beliau dengan cuek dan gayanya yang santai berkata “Min…., ngak ngisi kotak amal jumat ini yaa…., kurang nyumbang kale.., atau jangan-jangan ngak jumatan”

Suatu kalimat yang cuek dan simpel yang sangat bermakna dalam pikiran dan memoriku sampai saat ini, sehingga sewaktu aku tertabrak motor pagi tadi aku bertanya dalam diriku “apa yang telah saya lakukan, ngak ngisi kotak amal… yaa…, kurang nyumbang, telah mengecewakan orang ya.., mempersulit orang, atau apa yaa… yang telah ku perbuat…?

Sesuatu musibah atau kejadian dalam diri kita pasti terkandung makna di dalamnya, mungkin peristiwa itu merupakan balasan dari Allah terhadap apa yang telah kita lakukan.

Tetangga kamarku, pernah bertanya kepadaku “Min…, percaya ngak surga dan neraka itu ada di dunia ini bukan di akhirat kelak”, Aku dengan tegas berkata “setelah kiamat nanti kita akan dikumpul di padang masyhar kemudian amal perbuatan kita dihisap setelah itu kita akan ke surga atau neraka tergantung amal kita di dunia ini, jadi surga dan neraka ada di akhirat kelak… pren….”. kemudian Dia berkata dengan candanya “… ngak, bercanda aja… cess. Ngetes aja apa layak dapat nilai C pendaismu atau tidak…hee…hee..” sambil mengejek karena hanya aku yang dapat nilai jelek di kampus.

Meskipun bercanda tetapi pertanyaan itu sangat penuh makna, ini tidak perlu menjadi perdebatan dan kita harus selalu mengambil nilai-nilai positif dalam segala hal disetiap aktifitas kita.

Surga dan neraka itu ada di dunia ini, segala perbuatan kita baik atau buruk akan memperoleh balasannya di dunia ini. Dalam hubungan social kita sehari-hari, misalnya apabila kita memukul atau menyakiti orang lain, apakah kita tidak berpikir nanti atau kapan pun itu, di dunia ini, anak kita, saudara kita, keluarga kita…. atau kita sendiri akan disakiti atau dipukul oleh orang lain juga, begitu juga apabila kita membohongi, menipu, mencuri, mempersulit orang, memaki, memperkosa, membicarakan orang, dan lain sebagainya apakah kita tidak berpikir kita akan “dibegitukan” orang juga, kapan pun itu, Allah maha mengetahui..

Dari kalimat tersebut dapat dipetik makna bahwa kita Jangan terlalu ngotot dan memaksakan diri dalam menghadapi suatu masalah, syukurilah apa yang ada sekarang dan saat ini.

Segala sesuatunya kembalikanlah kepada diri kita sendiri, jangan selalu marah-marah dan menyalahkan orang lain. Apa yang terjadi dalam diri kita adalah akibat dari pilihan dan perbuatan kita sendiri.

Disaat-saat itulah Allah SWT menegur kita, mengingatkan kita, mencoba berbicara dengan kita tentang apa yang telah kita lakukan.

1 Komentar »

  1. aku setuju bgt neh.. aku juga pernah kehilangan motor baru di kos2an saat SMA dulu.. dari situ aku sadar kalo Tuhan mengingatkanku..mungkin aku kurang beramal.. terlalu banyak bersenang2, gak pernah memikirkan perasaan org lain.
    well… itulah hidup.

    Komentar oleh egik — Mei 16, 2008 @ 6:02 am | Balas


RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

Blog pada WordPress.com.